oleh

Renungan Tahun Baru: Tuhan Menetapkan Langkah Hidup Orang Percaya

Melalui berbagai Mazmurnya, Daud melukiskan betapa indah dan agung kasih setia Tuhan kepada orang-orang yang bersandar kepadaNya.

Raja Daud memiliki suatu hubungan pribadi yang indah bersama Tuhan

Daud mengatakan bahwa:

• Kasih Tuhan itu bagaikan sungai yang mengalir tak putus-putusnya kepada mereka

• Kesetiaan Tuhan bagaikan matahari yang tak pernah gagal bersinar di waktu pagi.

• Tuhan memberkati orang benar, TUHAN memagari dia dengan anugerah-Nya seperti perisai (Maz 5:12 (5-13)).

• Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong (34:15 (34-16));

• Orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; (Maz 121:1-2)

• TUHAN menjadi gembala mereka sehingga mereka takkan kekurangan. Ia membaringkan mereka di padang yang berumput hijau, Ia membimbing mereka ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwa mereka, menuntun merela di jalan yang benar sehingga meskipun berjalan dalam lembah kekelaman sekalipun, mereka tidak takut bahaya. Tuhan bahkan menyediakan hidangan bagi mereka di hadapan lawan-lawan mereka. Piala minuman mereka penuh melimpah. Hanya kebajikan dan kemurahan belaka yang akan mengikuti mereka, seumur hidup mereka.

•Tuhan mewariskan mereka negeri yang penuh air susu dan madu, dan anak cucu mereka dengan roti.

• Tuhan mengatur langkah-langkah hidup mereka. Kalaupun mereka jatuh, mereka tidak akan sampai tergeletak dan mati, karena Tuhan akan menopang mereka, sehingga mereka akan bangkit berdiri dengan semangat yang baru dan komitmen yang penuh untuk mencapai akhir perjalanan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tak akan putus asa, tak akan mudah dipatahkan oleh pencobaan.

• Karena mereka memiliki Tuhan yang perkasa.

Tuhan Selalu Bersama Kita Kemanapun Kita Pergi

Kalau kita mencermati perjalanan bangsa Israel. Maka kita akan mengerti pujian-pujian Daud bagi Tuhan. Daud memiliki pemahaman akan kasih dan pernyertaan Tuhan berdasarkan pengalaman bangsanya maupun dirinya sendiri.

Untuk menjadi suatu bangsa, yang memiliki suatu negeri dan kerajaan sendiri, bangsa Israel telah berjalan berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun di bawah pimpinan Musa.

Selama 40 tahun di padang gurung tentu bukan suatu situasi yang mudah. Bayangkan sekitar 2 juta orang, orangtua maupun anak-anak, melakukan perjalanan di padang gurun selama 40 tahun. Pada waktu siang suhu mencapai lebih dari 40 derajat celcius, sedangkan pada waktu malam suhu turun di bawah nol derajat.

Bagaimana mereka mendapatkan sumber makanan dan minuman? Mereka tak bisa bercocok tanam. Tak ada sumur di padang gurun. Sejauh mata memandang hanya padang belantara yang gersang dan berdebu.

Selain itu ada begitu banyak musuh yang ingin menghancurkan mereka. Mereka tidak memiliki pasukan tentara yang mahir berperang. Mereka hanyak bekas budak orang Mesir.

Namun segala sesuatu yang mereka butuhkan dicukupi oleh Tuhan. Perlindungan Tuhan pada siang hari melalui tiang awan yang menutupi mereka membuat terik matahari tidak menyengat mereka, dan tiang api pada waktu malam membuat suhu udara menjadi hangat.

Mereka juga dilindungi dari serbuan tentara Mesir di laut Merah. Tuhan membelah laut merah hanya untuk membuat mereka dapat lewat. Ketika tentara Mesir mengejar mereka, Tuhan menenggelamkan mereka di dalamnya.

Ketika mereka lapar, Tuhan menurunkan roti dari surga setiap pagi dan daging berupa burung puyuh di waktu petang. Itu terjadi setiap hari selama 40 tahun. Mujizat terlama sepanjang sejarah umat manusia.

Ketika mereka haus, Tuhan memancarkan air jernih dari bukit batu yang dapat langsung diminum.

Sampai pada suatu titik tertentu dari hidup mereka, situasi berubah, Tuhan tidak lagi bertindak seperti itu.

Ada saat tertentu dalam hidup manusia, situasi yang enak dan meninabobokan, harus berakhir. Situasi yang membuat orang sering tidak dewasa harus diakhiri. Orang Israel sudah terlalu lama hidup enak sehingga mereka perlu belajar dewasa dalam Tuhan.

Ketika kita masih anak-anak, orangtua kita menyuapi kita dengan makanan yang lunak seperti bubur dan minum susu. Namun setelah kita dewasa orangtua kita berhenti menyuapi bubur ke dalam mulut kita. Sudah waktunya bagi kita untuk berdiri seperti orang dewasa dan berpikir dan bertindak seperti orang dewasa dan mengunyah makanan yang lebih keras demi kesehatan tubuh kita sendiri diri dan untuk kebaikan masa depan kita sendiri.

Begitu juga dengan iman kita. Ketika iman kita masih kanak-kanak Tuhan memperlakukan kita seperti layaknya anak-anak. Namun ketika kita dewasa Tuhan mengajarkan kita dalam cara yang lebih berat, iman yang mampu menerima beban tantangan dan godaan yang lebih berat agar iman kita berkembang menjadi iman yang sempurna.

Hal yang sama terjadi dengan bangsa Israel. Di akhir perjalanan mereka, di saat mereka telah mencapai sungai Yordan, yang memisahkan mereka dengan tanah Kanaan, Tuhan tidak lagi menuntun mereka secara langsung. Tiang awan dan tiang api telah berhenti. Roti dari surga telah berhenti turun. Burung puyuh telah berhenti datang. Musa pemimpin rombongan mereka bahkan telah mati.

Pemimpin baru mereka yang menggantikan Musa adalah Yoshua. Yoshua belum teruji kemampuannya. Dia tidak memiliki kharisma seperti Musa. Ia tidak sehebat Musa.

Dapatkan mereka hidup seperti waktu lalu, tetap hidup bersama Tuhan ketika masih ada Musa? Dapatkan mereka menghadapi tantangan hidup mereka mengalahkan musuh-musuh mereka? Masihkah Tuhan yang sama menuntun mereka memasuki tanah Kanaan? Situasi seperti itu membuat hati mereka sangat kuatir dan takut. Masa depan seperti tidak pasti. Tak ada jaminan dan kepastian seperti pada waktu lalu. Situasi berubah, dan seperti sudah menjadi sesuatu yang umum, berhadapan dengan situasi yang baru orang merasa kuatir dan takut.

Dalam Yoshua 1:9 Tuhan berfirman kepada Yoshua: “ kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Firman Tuhan itu meneguhkan kembali perjanjian Tuhan seperti yang telah disampaikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tuhan akan selalu menuntun mereka. Mereka tidak harus kuatir, tidak perlu merasa kuatir dengan berbagai perubahan baru yang terjadi di tengah mereka. Karena apapun yang terjadi, dalam situasi apapun, Tuhan akan selalu bersama mereka kemanapun mereka pergi.

Pengalaman bangsa Israel bersama Tuhan juga menjadi pengalaman Daud ketika ia menulis tentang tuntunan Tuhan dalam hidupnya.

Daud diurapi menjadi raja ketika ia masih remaja. Namun sesudah itu hidupnya menjadi berubah. Bukannya menjadi raja, ia malah dikejar Saul, raja Israel saat itu. Selama belasan tahun Daud harus terus berlari dan bersembunyi di padang gurun agar tetap hidup. Ketika ia menjadi raja berkali-kali persoalan datang menimpa hidupnya. Ia jatuh kedalam dosa selingkuh bersama isteri Uria, Betseba, dan dihukum Tuhan. Ia juga harus melarikan diri dari kejaran anaknya sendiri Absalom yang menggulingkan Daud sebagai raja.

Namun kemanapun Daud pergi, dalam situasi apapun dan dimanapun ia berada, ia merasa tangan kasih Tuhan selalu menyertai dan menuntun hidupnya. Daud berkata dalam Mazmur 139: 7-10: 139:7. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? 139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. 139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, 139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Daud memberikan kesaksian bahwa tak ada suatupun, baik jarak, kegelapan atau apapun yang dapat menutupi kita dari padangan Tuhan. Tak ada suatu hal yang dapat membuat kita jauh dari Tuhan. Tuhan selalu ada dimanapun kita ada.

Kehadiran Tuhan dalam hidup kita membawa ketenangan dan keberanian untuk menghadapi persoalan hidup kita. Kehadiran Tuhan menghapus perasaan terisolasi, kesepian, tertindas, dan terabaikan.

Renungan untuk tahun baru 2021

Memasuki tahun yang baru, tahun 2021, setiap orang tentu akan merasa tidak pasti. Situasi baru, lingkungan baru, mungkin kehilangan orang-orang yang kita kasihi, semua kemungkinan akan membuat kita kuatir akan masa depan kita, akan hidup kita.

Namun janji Tuhan kepada kita bahwa Tuhanlah yang menetapkan langkah-langkah orang, terutama orang-orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; orang-orang yang selalu bersandar kepadaNya, orang-orang selalu mencari Dia siang dan malam

Orang-orang seperti itu meskipun mereka jatuh mereka tidak akan sampai celaka, karena tangan Tuhan yang kuat akan selalu menopang mereka.

Tangan Tuhan yang kuat akan menuntun mereka berdiri dan memberikan kekuatan baru bagi mereka untuk berjalan kembali sampai kepada tujuan akhir mereka bersama Tuhan.

Daud berkata: dulu aku muda, namun sekarang aku telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan oleh Tuhan, tak pernah kulihat anak cucunya orang-orang benar mengemis meminta-minta roti. Karena setiap hari Tuhan mencukupi kebutuhan mereka. Bahkan hidup mereka berkelebihan, sehingga setiap hari mereka mampu menaruh belas kasihan kepada orang lain, dan anak cucunya menjadi berkat bagi banyak orang.

Memasuki tahun yang baru ini, Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menaruh harapan kita satu-satunya hanya kepada Tuhan saja. Jangan menaruh harapan kepada hal-hal lain selain kepada Tuhan saja.

Bila anda menaruh harapan anda kepada Tuhan, anda seperti membangun rumah dengan fondasi yang kokoh bagaikan batu karang, tidak akan goyah oleh apapun. Namun bila anda menyandarkan harapan anda pada sesuatu di luar Tuhan, maka anda bagaikan membangun rumah di atas pasir yang mudah roboh.

Banyak orang sangat menyandarkan diri mereka pada uang. Uang memang perlu tapi tidak bisa dipakai untuk menggantung harapan anda.

Uang dapat membeli rumah, tetapi tak dapat membeli kedamaian keluarga.
Uang dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak bisa membeli kenyenyakan tidur.
Uang dapat membeli jam, tapi tak dapat membeli tambahan umur anda.
Uang dapat membeli buku, tetapi tak dapat membeli kepintaran dan hikmat.
Uang dapat membeli makanan, tetapi tak dapat membeli selera makan anda.
Uang dapat membeli posisi atau jabatan, tetapi tak dapat membeli rasa hormat sejati.
Uang dapat membeli obat, tetapi tak dapat membeli kesehatan.
Uang dapat membeli teman, tetapi tak dapat membeli persahabatan.
Uang dapat membeli ansuransi jiwa, tetapi tak dapat menunda kematian.
Uang dapat membeli hiburan, tetapi tak dapat membeli kebahagiaan.
Uang dapat membeli atau memilih agama, tetapi tak dapat membeli Tuhan
Uang dapat membeli kehidupan enak, tetapi tidak kehidupan kekal.
Uang dapat membeli kayu salib, tetapi tak dapat membeli seorang Penyelamat.
Uang dapat membeli tiket kemanapun di dunia ini, tetapi tidak bisa membeli tiket ke Surga.

Karena itu, berhentilah menyandarkan hidup anda pada uang. Berhenti kuatir akan hari esok, akan apa yang akan anda makan dan pakai. Karena Tuhan akan mencukupi semuanya itu. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dengan segala kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed